HUBUNGAN KUALITAS KOMUNIKASI NON-KLINIS TENAGA VOKASI FARMASI DENGAN KEPUASAN PASIEN DI PUSKESMAS HABIBOLA
Kata Kunci:
Komunikasi Interpersonal, Kepuasan Pasien, tenaga vokasi farmasi, kewenangan non-klinis, pelayanan kefarmasianAbstrak
Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan kualitas komunikasi non-klinis Tenaga Vokasi Farmasi (TVF) dengan kepuasan pasien di Puskesmas Habibola, dengan memperhatikan pembagian kewenangan sesuai Permenkes No. 3 Tahun 2020. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan desain kuantitatif cross-sectional, yang mencakup sampel 80 peserta yang dipilih secara sistematis melalui pendekatan sampel kuota. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner valid yang mengukur lima dimensi komunikasi interpersonal (keterbukaan, empati, sikap mendukung, sikap positif, kesetaraan) dan empat dimensi kepuasan pasien (kehandalan, daya tanggap, jaminan, bukti fisik).
Hasil penelitian menunjukkan kualitas komunikasi TVF secara umum berada dalam kategori baik (64,75%), dengan dimensi tertinggi pada kesetaraan (66,33%) dan terendah pada sikap mendukung (31%). Kepuasan pasien mencapai 65,66%, dengan skor tertinggi pada bukti fisik (62,66%). Uji chi-square membuktikan hubungan signifikan antara kedua variabel (χ²=97,585; p=0,000), di mana pasien yang menerima komunikasi "sangat baik" cenderung merasa puas (56,5%) atau sangat puas (43,5%).
Temuan ini menegaskan pentingnya peningkatan kompetensi komunikasi TVF dalam batasan kewenangan non-klinis. Penelitian merekomendasikan pengembangan modul pelatihan komunikasi khusus dan penyempurnaan SOP pelayanan untuk meningkatkan kepuasan pasien. Implikasi kebijakan dari temuan ini menyoroti kebutuhan penyesuaian beban kerja dan kolaborasi TVF-apoteker dalam kerangka regulasi yang berlaku.




